Pesisir Barat, Potensinasional.id – Kesabaran ratusan petani di Pekon Tanjung Kemala, Kecamatan Bangkunat, Kabupaten Pesisir Barat, kian menipis. Selama hampir sepuluh tahun, mereka menunggu realisasi pembangunan dan perbaikan Bendungan Way Bambang yang rusak parah. Namun hingga kini, harapan tersebut belum juga terwujud.
Akibat kerusakan bendungan yang menjadi sumber irigasi utama tersebut, sekitar 120 hektare lahan persawahan tidak lagi mendapatkan pasokan air yang memadai. Kondisi ini memaksa banyak petani beralih dari menanam padi ke tanaman jagung yang dinilai memiliki hasil ekonomi jauh lebih rendah.
Kerusakan bendungan tidak hanya berdampak pada sektor pertanian, tetapi juga memukul perekonomian masyarakat. Ratusan kepala keluarga yang menggantungkan hidup dari hasil pertanian sawah kini mengalami penurunan pendapatan secara signifikan. Bahkan, tidak sedikit petani yang terjerat utang dan kesulitan memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.
Peratin Pekon Tanjung Kemala, Alpian, saat ditemui di kediamannya, mengungkapkan bahwa pihak pemerintah pekon telah berulang kali mengajukan proposal perbaikan bendungan kepada pemerintah daerah. Namun hingga saat ini belum ada tindak lanjut yang nyata.
“Kami sudah berkali-kali mengusulkan perbaikan bendungan, bahkan proposal telah disampaikan ke pemerintah daerah. Namun sampai sekarang belum ada realisasi. Yang merasakan dampaknya bukan hanya masyarakat, tetapi kami sebagai pemerintah pekon juga ikut merasakan kesulitan yang dialami petani,” ujar Alpian, Jumat (19/6/2026).
Menurutnya, masyarakat selama ini hanya menerima janji tanpa kepastian. Sementara kondisi ekonomi petani terus memburuk akibat hilangnya sumber pengairan yang menjadi penopang utama sektor pertanian di wilayah tersebut.
Alpian menjelaskan, sebelum bendungan mengalami kerusakan, Bendungan Way Bambang mampu mengairi sekitar 120 hektare sawah produktif dan menjadi penopang utama perekonomian masyarakat. Bahkan, sektor persawahan menyumbang sekitar 80 persen pendapatan warga Pekon Tanjung Kemala.
“Dulu sebelum bendungan rusak, hasil panen padi mampu memberikan pendapatan sekitar Rp36 juta per hektare dalam satu kali musim panen. Sekarang setelah petani beralih ke jagung karena tidak ada pasokan air, pendapatan hanya berkisar Rp10 juta hingga Rp13 juta per hektare. Artinya, petani kehilangan potensi pendapatan lebih dari Rp20 juta setiap kali panen,” jelasnya.
Sebagai Peratin Tanjung Kemala sekaligus Ketua APDESI Kecamatan Bangkunat, Alpian mengaku prihatin melihat kondisi warganya yang semakin terpuruk. Ia berharap pemerintah kabupaten, provinsi, hingga pemerintah pusat dapat segera turun tangan dan menjadikan pembangunan Bendungan Way Bambang sebagai program prioritas.
“Kami memohon kepada pemerintah daerah, provinsi, dan pusat agar melihat langsung kondisi masyarakat kami. Bendungan ini sangat vital bagi kehidupan petani. Jika segera diperbaiki, maka roda perekonomian masyarakat akan kembali bergerak dan kesejahteraan warga dapat meningkat,” tegasnya.
Masyarakat Pekon Tanjung Kemala berharap pemerintah tidak lagi sekadar memberikan janji, melainkan segera merealisasikan pembangunan Bendungan Way Bambang demi menyelamatkan sektor pertanian dan mengembalikan harapan hidup ratusan keluarga petani yang telah menunggu selama satu dekade.
(Zainal Abidin)
