Muara Teweh, Barito Utara, Potensinasional.id– Empat tokoh muda adat Dayak di Kabupaten Barito Utara menegaskan komitmen bersama untuk membangun kesadaran investasi yang sehat dan berkeadilan di Kalimantan Tengah, khususnya di wilayah Barito Utara yang dikenal dengan julukan “Yamulik Bengkang Turan.” Mereka berharap setiap investasi yang masuk benar-benar memberikan dampak positif bagi kesejahteraan masyarakat dan pembangunan daerah.
Komitmen tersebut mengemuka saat keempat tokoh menghadiri pelantikan Asosiasi Bawi Dayak Budaya dan Pariwisata (ASBADATA) pada Selasa, 6 Januari 2026, di Aula Bappeda Muara Teweh. Dalam kesempatan itu, empat ketua organisasi masyarakat Dayak yang hadir dalam undangan yang sama tampak terlibat dialog serius di depan Aula Bappeda.

Keempat tokoh tersebut adalah Surya Baya (SBY), Malindo, Setahan Awingnu, dan Hison. Mereka sepakat bahwa investasi di Barito Utara harus berjalan seiring dengan perlindungan hak-hak masyarakat adat serta mendukung pembangunan berkelanjutan.
Dalam dialog tersebut, mereka juga menyoroti sejumlah polemik antara masyarakat dan perusahaan investasi, di antaranya yang melibatkan PT BAT, PT NPR, dan PT MUTU. Para tokoh menekankan pentingnya kesatuan sikap masyarakat serta kerja sama yang sehat dengan investor. Mereka menegaskan bahwa investasi yang hanya berorientasi pada keuntungan semata tanpa melibatkan masyarakat sekitar tidak diinginkan di Barito Utara.

Surya Baya, yang dikenal sebagai Ketua Gerakan Pemuda Dayak (GERDAYAK) Barito Utara sekaligus tokoh masyarakat yang sangat dihormati, menyampaikan bahwa polemik antara investasi dan warga tidak bisa dibiarkan berlarut-larut.
“Untuk mengatasi polemik investasi versus warga, kita harus bersatu. Hal seperti ini tidak bisa kita biarkan terus terjadi,” ujar SBY.
Ia juga menegaskan bahwa tujuan utama saat ini adalah memastikan investasi berjalan lancar namun tetap berpihak pada kesejahteraan masyarakat dan kemajuan daerah.
“Di sisa usia ini, tidak ada lagi yang harus dikejar selain membantu agar investasi membawa dampak positif bagi kesejahteraan masyarakat dan pembangunan Barito Utara yang lebih baik,” tambahnya.
Hal senada disampaikan Malindo, yang dikenal berpenampilan ramah dan aktif dalam kegiatan sosial.
“Secara ekonomi, kebutuhan keluarga kita mungkin sudah tercukupi. Namun hidup tidak akan cukup jika tidak memberi manfaat bagi orang-orang di sekitar kita,” tuturnya.
Sementara itu, Setahan Awingnu, Ketua BATAMAD Barito Utara, menekankan pentingnya persatuan dalam menyikapi persoalan investasi.
“Jika ada masalah yang sulit diselesaikan, mari kita gabung. Saat kita bersatu, suara masyarakat pasti terwakili. Jika ada investasi yang nakal, penolakan kita akan didengar semua pihak. Selain itu, warga sekitar perusahaan harus dilibatkan untuk bekerja,” jelasnya.
Di tempat yang sama, Hison, Ketua Umum GPD Alur Barito, yang dikenal vokal dalam membela hak-hak masyarakat adat, menyatakan dukungan penuh terhadap kolaborasi para tokoh masyarakat.

“Kewajiban organisasi adalah menjadi mitra antara kepentingan masyarakat dan investasi untuk pembangunan. Kami tetap pada konsep membangun kesadaran masyarakat dan investasi agar hidup beradat di tanah Dayak. Bagi investasi yang hanya ingin mengeruk keuntungan dan menciptakan keributan, silakan angkat kaki dari bumi Yamulik Bengkang Turan yang kita cintai ini,” tegasnya.
Menurut Hison, ketaatan terhadap nilai-nilai adat dan budaya leluhur merupakan prinsip yang tidak bisa ditawar dalam setiap aktivitas investasi di wilayah Dayak.
(Henryanus, A)







