May Day 2026 di Lampung Memanas, Ribuan Massa Desak Upah Layak hingga Hentikan Kriminalisasi

Bandar Lampung, Potensinasional.id – Peringatan Hari Buruh Internasional atau May Day 2026 di Bandar Lampung diwarnai aksi besar-besaran dari berbagai elemen masyarakat. Ribuan massa yang terdiri dari buruh, mahasiswa, petani, dan organisasi sipil turun ke jalan menyuarakan tuntutan terkait ketenagakerjaan, keadilan sosial, hingga isu demokrasi.

Mengusung tema “Lawan Kapitalisme, Imperialisme, Militerisme: Wujudkan Kerja Layak, Upah Layak, Hidup Layak”, massa menilai kondisi kelas pekerja kian tertekan akibat kebijakan ekonomi yang dianggap belum berpihak kepada buruh.

Dalam pernyataan sikap yang dibacakan di lokasi aksi, peserta menyoroti masih maraknya praktik kerja kontrak dan outsourcing, rendahnya upah, serta minimnya jaminan sosial bagi pekerja di berbagai sektor. Sorotan juga diarahkan pada kondisi pekerja digital, media, tenaga kesehatan, buruh perkebunan, hingga kurir yang dinilai belum mendapatkan perlindungan maksimal.

Tak hanya isu ketenagakerjaan, massa juga mengangkat persoalan konflik agraria, penyempitan ruang demokrasi, serta dugaan kriminalisasi terhadap aktivis. Mereka menuntut negara hadir secara nyata dalam menjamin hak-hak dasar warga, termasuk akses pendidikan, layanan kesehatan, dan kebebasan berpendapat.

Dalam aksi tersebut, massa menyampaikan sedikitnya 18 tuntutan utama. Di antaranya mendesak lahirnya regulasi ketenagakerjaan yang berpihak kepada buruh, penghapusan sistem kerja fleksibel yang merugikan pekerja, penetapan upah layak nasional, penyelesaian konflik agraria, hingga penghentian segala bentuk intimidasi terhadap masyarakat yang menyampaikan kritik.

Selain itu, massa juga mendesak pemerintah daerah untuk segera menuntaskan persoalan banjir di Kota Bandar Lampung, menyediakan ruang terbuka hijau minimal 30 persen, serta memastikan pemenuhan hak-hak pekerja di perusahaan maupun badan usaha milik daerah.

Koordinator aksi, Yohanes Joko Purwanto, dalam orasinya menegaskan bahwa peringatan May Day bukan sekadar agenda tahunan, melainkan momentum perjuangan bersama.

“May Day adalah hari perjuangan. Buruh, petani, mahasiswa, dan rakyat harus bersatu memperjuangkan kehidupan yang lebih adil dan bermartabat,” tegasnya.

Aksi berlangsung dengan pengawalan aparat keamanan. Massa secara bergantian menyampaikan orasi, membentangkan spanduk tuntutan, serta menyerukan solidaritas antar kelompok masyarakat.

Peringatan May Day setiap 1 Mei menjadi momentum global bagi kaum pekerja untuk memperjuangkan hak-haknya serta mendorong peningkatan kesejahteraan di berbagai sektor. (Deni)