Peningkatan Jalan Gedung Cahya Kuningan–Sukabanjar Diduga Dikerjakan Asal Jadi, Warga Pertanyakan Mutu Proyek Rp3,4 Miliar

Pesisir Barat, Potensinasional.id — Proyek peningkatan jalan yang menghubungkan Pekon Gedung Cahya Kuningan dengan Pekon Sukabanjar, Kecamatan Ngambur, Kabupaten Pesisir Barat, menuai sorotan tajam dari masyarakat. Pekerjaan yang bersumber dari APBD tersebut diduga dikerjakan asal-asalan dan tidak sesuai standar teknis, Rabu (31/12/2025).

Sejumlah warga setempat mengaku kecewa dan mempertanyakan kualitas pengerjaan proyek bernilai miliaran rupiah tersebut. Mereka menilai metode pelaksanaan di lapangan jauh dari kata profesional dan terkesan minim pengawasan.
“Dari awal tahapan pengerjaannya sudah tidak benar. Aspal lama tidak dikeruk maksimal, pemadatan tidak jelas, lalu pekerja dan pengawas seolah menutup keterbukaan informasi publik. Dengan anggaran sebesar ini, bagaimana mungkin jalan bisa awet?” ungkap salah satu warga yang enggan disebutkan namanya.

Berdasarkan penelusuran tim Potensinasional.id di lokasi proyek, diketahui pekerjaan tersebut dilaksanakan oleh CV Putra Palapa selaku penyedia jasa, dengan CV Anti Caximilan sebagai konsultan pengawas.
Adapun rincian proyek tercantum sebagai berikut:
Nilai Kontrak: Rp3.467.754.442,29
Nomor Kontrak: 06/Ktr/APBD/BM/IV.03.03/2025
Waktu Pelaksanaan: 60 (enam puluh) hari kalender
Namun ironisnya, pada papan informasi proyek tidak dicantumkan secara jelas ukuran pekerjaan, baik panjang maupun lebar jalan. Kondisi ini memicu kecurigaan warga karena proyek terkesan tidak transparan dan tertutup dari pengawasan publik.
“Ini proyek pemerintah, tapi informasinya minim. Tidak ada ukuran pekerjaan di papan proyek. Ada apa sebenarnya?” kata warga lainnya dengan nada curiga.

Upaya konfirmasi awak media di lokasi juga menemui jalan buntu. Pihak pelaksana maupun kontraktor tidak berada di tempat saat wartawan datang.

Seorang pekerja harian mengungkapkan bahwa pelaksana proyek jarang turun langsung ke lapangan.
“Bosnya paling seminggu sekali datang. Kami cuma pekerja, tidak berani bicara. Takut nanti kami yang disalahkan,” ujar pekerja tersebut.

Warga menilai lemahnya pengawasan menjadi faktor utama dugaan rendahnya mutu pekerjaan. Mereka khawatir jalan yang baru diaspal tidak akan bertahan lama dan berpotensi cepat rusak.
“Ini uang rakyat. Wajar kalau kami protes. Jangan asal kerja. Kalau kualitasnya seperti ini, tidak lama lagi pasti rusak,” tegas warga.

Warga juga mengaku telah menyampaikan keluhan terkait proyek tersebut, namun hingga kini belum pernah melihat pihak pelaksana maupun pengawas datang langsung untuk menindaklanjuti keluhan di lapangan.

Hingga berita ini diterbitkan, pihak kontraktor maupun dinas teknis terkait belum berhasil dikonfirmasi untuk memberikan klarifikasi atas dugaan ketidaksesuaian teknis dan minimnya pengawasan proyek tersebut.
Tim Potensinasional.id akan terus berupaya menghubungi pihak-pihak terkait dan menyajikan informasi lanjutan demi memenuhi hak publik atas keterbukaan dan transparansi penggunaan anggaran negara.
(Z. Abidin/Azpan)