Barito Utara, Kalteng, Potensinasional.id— Rapat Pimpinan Daerah (RAPIMDA) I Tariu Borneo Bangkule Rajangk (TBBR) Dewan Pengurus Daerah (DPD) Kabupaten Barito Utara sukses digelar di Aula Bappeda Muara Teweh. Kegiatan ini menegaskan peran strategis organisasi adat dalam memperkuat persatuan masyarakat serta melestarikan kearifan lokal Dayak di wilayah Barito Utara.
Acara tersebut dihadiri sejumlah tokoh dan pemangku kepentingan, di antaranya Kapolres Barito Utara yang diwakili Wakapolres dan Kasat Intelkam, Asisten III Sekda Barito Utara Yaser Arapat, unsur Forkopimda, Staf Ahli Bupati, perwakilan Dewan Adat Dayak, Batamad Mantir Adat, insan pers, serta jajaran pengurus dan anggota TBBR Barito Utara.

Ketua DPD TBBR Kabupaten Barito Utara, Edy, S.Pd., melalui Sekretaris Andrianus Riky Kusnadi, S.E., menyampaikan laporan organisasi, termasuk pemaparan Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga (AD/ART) TBBR serta struktur dan dasar pembentukan kepengurusan DPD TBBR Kabupaten Barito Utara.
Rangkaian kegiatan dibuka dengan prosesi adat potong pantan, ritual leluhur yang sarat makna, kemudian dilanjutkan dengan penampilan seni tari khas Dayak Barito Utara yang menggambarkan kekayaan budaya daerah.
Sebagai organisasi yang lahir dari nilai-nilai adat dan budaya, TBBR menegaskan tanggung jawab sosial dan historisnya untuk menjadi garda terdepan dalam menjaga, melindungi, dan melestarikan tradisi serta nilai budaya yang menjadi identitas masyarakat Dayak di Barito Utara.
Melalui RAPIMDA I, TBBR meneguhkan komitmen untuk memperkuat persatuan komunitas adat sekaligus berperan aktif dalam mendukung pembangunan daerah yang berkelanjutan. Komitmen ini sejalan dengan konsep pembangunan berbasis kearifan lokal yang diakui sebagai pilar penting dalam menjaga keberlanjutan sosial dan lingkungan.
Kegiatan RAPIMDA I juga menjadi wujud nyata sinergi antara organisasi adat, pemerintah daerah, dan aparat keamanan dalam membangun kemitraan yang harmonis demi terciptanya stabilitas, ketenteraman, dan kemajuan daerah.
Kehadiran para pemangku kepentingan dalam forum ini menegaskan pentingnya kolaborasi lintas sektor dalam menjadikan kearifan lokal sebagai fondasi pembangunan masa depan yang inklusif dan berkelanjutan.
RAPIMDA I TBBR bukan sekadar forum organisasi, melainkan momentum strategis untuk memperkuat pijakan budaya, meningkatkan solidaritas masyarakat adat, serta memberikan kontribusi nyata bagi pembangunan daerah. Dengan semangat luhur adat dan budaya, Tariu Borneo Bangkule Rajangk mengukuhkan perannya sebagai garda terdepan dalam menjaga warisan leluhur sekaligus menjawab tantangan zaman modern.
(Henryanus, A.)











