Barito Utara, Kalimantan Tengah, Potensinasional.id— Nuansa budaya yang kental kembali terasa di Desa Jingah, Kecamatan Teweh Baru, saat masyarakat Suku Dayak Dusun Bayatn menggelar ritual adat Wara dan Pelaungk Kandong, sebuah tradisi sakral yang diwariskan secara turun-temurun dari leluhur Dayak Barito.
Ritual Wara dilaksanakan pada awal bulan keempat musim panen padi, menjadi penanda penting dalam siklus pertanian sekaligus kehidupan spiritual masyarakat setempat. Tradisi ini bukan sekadar seremoni adat, tetapi juga bentuk penghormatan terhadap leluhur serta ungkapan syukur atas hasil panen.
Pembukaan ritual dihadiri berbagai tokoh adat, di antaranya tetua dari Lembaga Adat Kandong, Majelis Adat Keharingan, serta jajaran Barisan Pertahanan Adat Dayak (Batamad). Kehadiran mereka menegaskan kuatnya dukungan terhadap pelestarian tradisi leluhur tersebut.
Demang Kepala Adat Kecamatan Teweh Baru dalam sambutannya menegaskan pentingnya menjaga ritual Wara sebagai bagian tak terpisahkan dari identitas budaya Dayak. Menurutnya, tradisi ini harus terus dilestarikan dan diwariskan kepada generasi berikutnya.
Hal senada disampaikan perwakilan Majelis Adat Keharingan (MAKI), Robinson, yang menegaskan bahwa ritual Wara merupakan adat yang telah disahkan sejak zaman leluhur dan memiliki nilai kesakralan tinggi. Ia menekankan pentingnya menjaga keaslian tradisi tersebut agar tidak tergerus zaman.
Ritual Wara sendiri memiliki durasi pelaksanaan yang bervariasi, mulai dari satu minggu hingga satu bulan, tergantung kemampuan penyelenggara. Hal ini mencerminkan fleksibilitas sekaligus kekayaan nilai budaya masyarakat Dayak Dusun Bayatn.
Sementara itu, Ketua Batamad Kabupaten Barito Utara, Setahan Awingnu, menyatakan dukungan penuh terhadap pelaksanaan ritual ini, dengan catatan tetap berpedoman pada tata cara dan norma keagamaan, khususnya bagi umat Kaharingan.
Prosesi Wara juga dimantrai secara resmi oleh Majelis Agama Kaharingan Kecamatan Teweh Baru dan dipimpin langsung oleh Demang Kepala Adat setempat. Ritual ini memperkuat nilai spiritual sekaligus mempererat ikatan sosial masyarakat.
Lebih dari sekadar pelestarian budaya, ritual Wara dan Pelaungk Kandong menjadi simbol terbukanya “kandong”—pintu keberkahan dan kesejahteraan—bagi masyarakat. Tradisi ini menumbuhkan semangat kebersamaan, solidaritas, serta menjaga keberlanjutan warisan leluhur di tengah arus modernisasi.
Pelaksanaan ritual ini kembali menegaskan pentingnya menjaga kesucian dan eksistensi nilai-nilai adat, sekaligus memperkokoh identitas budaya Dayak Barito yang autentik dan berakar kuat pada kearifan lokal.
Penulis:
Henryanus A.









