Oleh: Dr. Susanto Saman
Konselor P4GN DPD GRANAT Provinsi Lampung / Dosen Universitas Bandar Lampung (UBL)
Fenomena yang kerap disebut sebagai “autisme sosial” bukan sekadar istilah populer dalam kajian sosiologi. Ia telah menjelma menjadi ancaman nyata bagi kemanusiaan, terutama dalam ruang-ruang pemulihan. Di titik ini, seorang konselor adiksi tidak lagi hanya berhadapan dengan ketergantungan zat, tetapi juga dengan “kematian rasa” yang tumbuh secara sistematis di tengah masyarakat modern.
Realitas yang dihadapi kerap begitu getir. Bayangkan seorang remaja meregang nyawa akibat overdosis, bukan karena kurangnya pengawasan, melainkan karena keluarganya hadir secara fisik namun absen secara emosional. Mereka duduk di ruangan yang sama, tetapi jiwa mereka terkurung dalam layar gawai. Napas yang tersengal di samping mereka luput dari perhatian. Di sinilah peran konselor menjadi begitu kompleks: memutus “trans digital” yang perlahan mematikan kepekaan manusia.
Tugas konselor bukan sekadar memberikan terapi, melainkan melakukan “pembedahan emosional” terhadap jiwa-jiwa yang kehilangan kemampuan membaca bahasa tubuh manusia. Ada pecandu yang merasa lebih dicintai oleh penonton anonim di ruang siaran langsung, sementara ia menutup pintu bagi ibunya yang menangis di balik pintu kayu yang dingin. Mereka lebih menghargai ledakan dopamin dari notifikasi layar dibandingkan hangatnya sentuhan tangan yang nyata.
Adiksi dan isolasi sosial kini saling mengunci dalam lingkaran yang mematikan. Di titik inilah konselor hadir sebagai cermin kejujuran. Ia harus menarik klien keluar dari zona nyaman digital yang semu, mengajak mereka merasakan kembali realitas, agar mampu menemukan makna kesembuhan. Konselor bukan sekadar pemberi nasihat, melainkan penunjuk jalan di tengah kabut digital yang membuat manusia semakin asing satu sama lain. Ketika dunia menjadi semakin “autis secara sosial”, kehadiran konselor yang penuh empati justru menjadi tindakan yang revolusioner.
Dalam lanskap modern yang kian dingin, konselor berdiri sebagai “penjaga nyawa” di garis depan paradoks zaman—era ketika manusia memiliki ribuan teman di dunia maya, tetapi mati kesepian di dunia nyata. Ada ayah yang tak lagi mengenali frekuensi tangis anaknya karena telinganya tertutup earphone, meninggalkan ruang hampa yang kemudian diisi oleh candu.
Konselor adalah penyambung rasa, yang menjahit kembali saraf-saraf empati yang terputus. Ia melatih manusia untuk berani menatap mata sesama tanpa filter, dan meyakinkan mereka bahwa rasa sakit di dunia nyata jauh lebih bermakna daripada kebahagiaan semu di dalam gelembung digital.
Di balik setiap sesi yang melelahkan, konselor adalah lilin yang menolak padam di tengah badai isolasi. Harapan terbesar seorang konselor bukan sekadar melihat klien berhenti menggunakan zat, melainkan menyaksikan mata mereka kembali bercahaya dan mampu hadir sepenuhnya di hadapan manusia lain.
Semoga tangan para konselor tidak pernah lelah menarik mereka yang tenggelam dalam gelembung digitalnya sendiri. Semoga setiap kata yang terucap mampu merobohkan tembok kebisuan yang dibangun oleh kesepian. Pada akhirnya, ketika dunia semakin sibuk dengan dirinya sendiri, konselor adalah bukti bahwa cinta dan kehadiran tulus masih menjadi teknologi pemulihan paling canggih yang pernah dimiliki manusia.
Jangan menyerah. Bagi sebagian klien, konselor mungkin adalah satu-satunya manusia yang benar-benar hadir ketika dunia hanya menyisakan bayangan.
Keterangan Foto:
Foto bersama Benny Mangkunegara, S.E., Ketua IKAI Provinsi Lampung – Ikatan Konselor Adiksi Indonesia.
